Di memang tempatnya, kita diajari bahwa lidah kita memiliki kemampuan merasa yang berbeda pada tiap bagiannya. Ujung lidah untuk merasakan rasa manis, sisi depan untuk rasa asin, sisi belakang untuk asa, dan pangkal lidah untuk rasa pahit,itu kata para ahli..di bidang kedokteran
Informasi tersebut di atas adalah salah, karena faktanya, telan saja gula, maka di bagian manapun lidah, tetap saja terasa manis, atau telan saja garam, semua bagian lidah akan merasa asin, atau putus cinta saja, maka menelan ludah pun akan terasa pahit sampai ke hati *eh*.
Kesalahan ini terjadi karena lagi-lagi kesalahan penerjemahan hasil riset seorang Jerman – D.P. Hanig pada tahun 1901 .
###***@@@***##
Sebenarnya, ada banyak lagi kesalahan penerjemahan yang dapat dijadikan contoh. Misalnya pemaknaan istilah bahasa Arab “Jihad”, dari makna “pergulatan jiwa” menjadi “perang melawan kafir“. Atau pernyataan terkenal presiden Iran – Mahmoud Ahmadinejad yang akan “menghapuskan Israel dari peta” ternyata hanyalah kesalahan penerjemahan pers yang arti sebenarnya adalah “rejim yang menduduki Jerusalem saat ini harus dihilangkan di masa depan“.
Namun pembahasan masalah ini akan membawa topik yang lebih sensitif dan cenderung bias, hingga tujuan awal tulisan justru tidak tercapai.
Akhirul qalam, apapun bahasa yang kita pakai, teruslah menjadi bagian besar dari kesatuan umat manusia, karena sesungguhnya bahasa hati kita akan selalu sama…
tapi dari pada di bikin pusing dengan perdebatan tersebut mending kita sejenak meliburkan diri dari ngajar..bergelut dengan buku pelajaran dan kadang bikin otak kita tegang ,kadang emosi itu keluar ngak tahu waktu.
memanjakan lidah...dengan rasa gurihnya daging berbagai macam dari daging A..,Pi.,Ce.....,kambing dari manisnya kecap..gula jawa palem....menambah rasa menjadi luar biasa...apa lagi di bakar di atas tungku arang dengan api menyala,aroma sudah tercium LESATOS...
mongooo..tapi kok mericaya akeh banget ,,,HAK...Des...DES....HHaahhahHU..hu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar